27 November 2011

The Establishment of Foreign Capital Company ("PMA") in Indonesia


Indonesia is a country which the economy situation is getting better this past 13 years. Indonesia is also known as an appropriate target for the investors to make an investment. As a developing country, Indonesia has proved to the other asian and also western countries about the promising economic growth in the future. Despite of the richness of its resources, Indonesia is believed that many business sectors have a good opportunity for investors to invest their money. The country is also one of the highest GDP of ASEAN countries.

Therefore, this situation has attracted many investors inside and outside the country to invest in busines sectors in Indonesia. Foreign investors still playing an important role in business' funding here. especially in big project, such as in natural resources field. But, Indonesian Law has provided some regulations that must be obeyed by foreign investors. there are requirements that should be fullfiled before they invest the money. they are including the status of legal entity of the company, the negative list of investment, the permission of related government institutions, and so forth.

There are two ways for foreign investors to make an investment in Indonesia. First, by establishing a Foreign Capital Company (also known as Perusahaan Modal Asing: "PMA") according to Indonesian Law. Second, by making a joint venture agreement with domestic company (domestic capital company). I will explain about the establishing of pure Foreign Capital Company (PMA) in Indonesia, fist. then, about the joint venture investment later on.

the requirements of establishing of the PMA are:
  1. Filing a temporary permission for Limited Liability Foreign Capital Company ("PT PMA") through The Investment Coordinating Board ("BKPM"). Here, we should notice the negative list of investment first according to Presidential Regulation Number 36 Year 2010 to find out which sectors are opened or closed for foreign investment. there are the composition of investment for the open sectors. some sectors have different composition.
  2. Filing an application to the BKPM for investment registration, and attach the following documents;
- a letter from the relevant state institutions or a letter issued by the embassy/country offices representation Indonesia -for foreign investor-
- a copy of valid passport of the foreign applicant -as individual applicant, not as legal entity-
- a copy the Articles of Association in English or in Bahasa Indonesia which is translated by a sworn translator for the foreign business/legal entity applicant.
- a copy of the deed of establishment and its amendments that has been approved by the Ministry of Justice and Human Rights for foreign business/legal entity.
- a copy of Taxpayer Identification Number (NPWP) for both individual or business/legal entity applicant.
- The application of registration is being signed over the stamp by the applicant or directors of the company.
- The original Power of Attorney with sufficient stamp if the application is not directly applied by the investors.
  1. Filing a principles of investment license permission (Izin Prinsip) from BKPM, a permission to conduct investment activities on attempted business sector.
  2. The company must obtain a business license (Izin Usaha) from BKPM, and attach the following documents;
- The report of project inspection whose the business activities requireafacility of import duty of goods and materials.
- Evidence of Land use
- records of approval/ratification of The Environmental Impact Assessment (AMDAL), Environmental Management Effort (UKL), and Environmental Monitoring Effort (UPL).
- Records of The Building Permit (IMB).
The mentioned above are a slight requirements for foreign investors who intend to establish a PMA company. It is really important to seek relevant regulation of this issue. Therefore, the parties should be updated about government regulations for their investment safety.
I hope this coverage will help you in understanding Foreign Capital Investment in Indonesia. Next, I will explain about Joint Venturing Foreign investor with Domestic Investor as another way about investing in Indonesia.

22 November 2011

This is not the end of journey, but the beginning to the real world..

wow.. it's been almost a year I didn't update my blog. I'm still in a good shape till today and I have graduated and gain BACHELOR OF LAW! yeeaahh! fiuuhh~ 4 years of study, there are alot of memories and experiences I got.

Now, i'm preparing myself to be a good lawyer (my dream since highschool). I always want to be a corporate lawyer. handling any corporate matters (banking, resources, investment, and so forth). This is the beginning in creating my own path. WE DO THE BEST, GOD DO THE REST! believe and make it happen.. It's been 2 months since my graduation day. I'm still waiting for the best that might come. sometimes human is such an impatient person. even doesn't realize that God has planned the best for them. We should stay strong in a hard times, should stay humble in a happy time.

I just hope my dreams will come true, study to EUROPE and make my parents happy. It's already november. 1 month to 2012. Bless me God for all the things I've done..

I will be updating my blog mostly about law in indonesia. this is not a legal advice.. just wanna share some knowledge. So, I hope it will be useful for you readers! enjoy!

-ayunda-

30 December 2010

last term student flurry

Firstly, I wanna say happy holliday to you all. time flies so fast and we are getting near to a new year. 2 days left before we celebrate 2011 new year. If you ask me what am I going to do during that time.. the answer is I'LL TRY TO FIND A TOPIC AND TITTLE FOR MY THESIS. yeah.. I'm hoping next semester would be my last semester studying at FHUI. I have 5 months to finish it. May Allah help me to through it all and I can graduate on time.

08 July 2010

Law Abiding Citizen Quote

It’s not what you know. It’s what you can prove in court.
Life isn’t always fair. And justice isn’t always just.
Better some justice, than no justice at all.
-Nick Rice-


“TO ACHIEVE VICTORY WE MUST MASS OUR FORCES AT THE HUB OF ALL POWER AND MOVEMENT. ‘THE ENEMY’S CENTER OF GRAVITY’”
–Von Clausewitz-

28 January 2010

Apakah Asean- China Free Trade Agreement adalah Sebuah Kesalahan??

Semua orang pernah melakukan kesalahan, begitupun saya. Keyakinan Asean- China Free Trade Area akan membawa perekonomian Indonesia menjadi lebih baik dan lebih kompetitif di dunia internasional, mulai menunjukan hasil nol besar. Baru beberapa minggu perjanjian itu ditanda- tangani sudah muncul dampak buruk di pasar domestik. Sektor utama yang terkena imbas kerugian dari FTA ini adalah sektor industri tekstil. Ratusan pengusaha merugi, tidak mampu lagi berproduksi bahkan keuntungan penjualan hanya bisa digunakan untuk memproduksi ulang. Mereka terpaksa merumahkan ratusan orang karyawannya karena laba mereka jauh merosot dan kemudian lebih memilih peran sebagai Importir dibandingkan produsen. Ada seorang penjual di Tanah Abang yang berbagi cerita ke saya ( sebenarnya waktu itu lagi nyari celana :D) bahwa dahulu ia adalah produsen celana dan pakaian. Namun sekarang ia berubah haluan menjadi Importir barang- barang China. Mengapa? Karena barang China lebih murah daripada produk lokal. Beliau mengatakan, " Celana jins asal China yang saya jual seharga 70ribu ini, jika saya sendiri yang memproduksi saya tidak akan bisa menjualnya seharga 70ribu." Penjual yang tidak sempat Saya tanyakan namanya ini mengatakan bahwa dahulu ketika beliau masih memproduksi sendiri barang- barangnya, bisa merangkul 200 orang tenaga kerja. Namun, saat ini beliau hanya mempunyai 40 orang karyawan.

Hal tersebut diatas adalah fakta nyata yang terjadi di dalam pasar domestik kita. Sebelum adanya FTA saja ( sejak 5 tahun yang lalu), China sudah mendominasi produk lokal sebesar 15%. Akibat buruk apa lagi yang akan terjadi jika kita terus- menerus membiarkan hal ini? Produk lokal bisa mati. Keberadaan FTA bukan hanya akan merugikan produsen- produsen domestik melainkan juga pemerintah. Apa itu? yaitu merosotnya pendapatan bea masuk barang- barang impor menyebabkan kerugian sebesar 8.5%.

Neraca perdagangan saat ini juga membuktikan pendapatan Indonesia yang selalu defisit, contohnya adalah ekspor migas. Ekspor Indonesia ke China mengalami defisit sebesar 4 miliar rupiah, ke Singapura sebesar 1.2 miliar rupiah, dan ke Thailand sebesar 1.8 miliar rupiah. Satu- satunya surplus berasal dari ekspor ke Malaysia.

Pemerintah dengan mudahnya mengatakan ( dalam hal ini Menteri Koperasi dan UKM), bahwa " Kualitas produk lokal kita lebih bagus daripada produk lain. Sangat optimis sekali kita pasti bisa bersaing dengan produk China."
Permasalahannya: Konsumen akan lebih memilih produk yang harganya LEBIH MURAH, dibandingkan dengan KUALITAS yang bagus. Dengan keadaan yang masih di suasana krisis global, kualitas bukanlah pilihan yang utama, toh kualitas China juga tidak lebih buruk dari Indonesia.

Menteri keuangan mengatakan bahwa, " Produsen kita akan diberikan subsidi untuk membantu produksi mereka."
Namun, ternyata mereka yang disubsidi dibatasi yaitu mereka- mereka yang usahanya tidak melanggar WTO. Apa itu?? hanya mereka yang tahu. Hal ini berarti ada pembatasan- pembatasan yang tidak semua produsen mendapatkan subsidi tersebut. Lihat saja kenyataan bahwa pabrik- pabrik tekstil domestik sudah banyak yang gulung tikar atau akan segera menuju ke arah sana.

Pemerintah kita selalu melihat keluar dan hanya mementingkan gengsi internasional, apakah sudah memikirkan bagaimana cara memproteksi produk dalam negeri kita? Jika belum, pasar bebas nantinya akan sulit untuk dihindari. Bukan hanya produk China tetapi produk negara- negara lainnya. akibatnya, akan mematikan produk lokal lebih cepat lagi.

Pemerintah sebagai kuasa rakyat, harus membuat industri tanah air menjadi tuan rumah di negerinya sendiri. Jangan hanya karena gengsi internasional atau demi mendapatkan devisa sebanyak- banyaknya, lupa akan tujuan landasan negara kita, yaitu memberikan kemakmuran sebesar- besarnya bagi rakyat Indonesia.

yang saya liat saat ini, Indonesia mulai tidak terkontrol dalam hal membuka diri terhadap dunia Internasional. Dari masalah FTA sampai perencanaan peraturan pemerintah yang membolehkan orang asing memiliki Apartemen atau condominiun dengan status Strata Title dan jangka waktu yang mencapai 90 tahun. Alasannya, semua sama, yaitu pemerintah menganggap bahwa Indonesia sudah sangat ketinggalan dengan NEGARA-NEGARA LAIN, seperti Singapura, Malaysia, Thailand, dll. Apakah kita harus selalu membanding- bandingkan diri dengan mereka?? Dari awalnya, memang kita berbeda. Jadi, untuk apa disama- samakan yang jatuhya nanti hanya menjadi paksaan. Kita harus ingat, kita mempunyai ideologi, falsafah, dan landasan negara kita sendiri. Jadikan itu pedoman utama dalam menjalankan pemerintahan. Jadilah pribadi bangsa sendiri, bukan pribadi yang selalu melihat pribadi orang lain.

Apa yang perlu kita lakukan jika Indonesia benar- benar tidak siap dengan Asean- China FTA? masih sebuah tanda tanya besar dengan jawaban tidak pasti sedangkan imbasnya akan terus menjalar.. Apakah FTA adalah kesalahan?

Sumber data: SIGI sctv

26 January 2010

Perkawinan WNI dan WNA di luar Negeri beserta permasalahannya.

ada contoh kasus perkawinan WNI dan WNA di luar negeri sebagai berikut:
A ( WNI) menikah dengan B (WNA asal Amerika) di Australia. pernikahan mereka sudah didaftarkan ke kedutaan besar masing- masing di Australia. mereka berdomisili disana selama 3 tahun. Atas kesepakatan bersama, anak mereka akan lahir dan dibesarkan di Amerika nantinya. Pertanyaannya:
1. Apakah pernikahan itu sah menurut hukum di Indonesia ( UU perkawinan no.1 tahun 1974) karena belum mendaftarkannya ke catatan sipil di Indonesia?
2. Jika harus melalui catatan sipil, apakah harus di Indonesia dan dihadiri langsung dua belah pihak yang bersangkutan?
3. Apa akibatnya jika pernikahannya tidak di catatkan?Jika ingin membuat pejanjian perkawinan, hukum negara manakah yang dipakai?perjanjian itu dibuat sebelum atau bersamaan ketika pendaftaran ke catatan sipil? apakah perjanjian itu hanya dapat dilakukan di Indonesia?Jika perjanjian itu dibuat berdasarkan hukum suatu negara, apakah perjanjian itu hanya berlaku di negara itu saja?
8. apakah ada hukum internasional yang mengatur tentang pernikahan atau perjanjian pernikahan?


Memang agak ribet ya..berikut jawabannya, semoga dapat membantu:
1. perkawinan yang sah menurut hukum di Indonesia apabila telah memenuhi syarat materil, formil perkawinan, dan konsepsi perkawinan.
Syarat materiil perkawinan yaitu: adanya kata sepakat antara calon suami/istri, batas usia ( laki- laki:19 tahun, perempuan:16 tahun),tidak sedang terikat perkawinan, calon istri sudah melewati waktu tunggu selama 300 hari sejak perceraian perkawinannya terdahulu.
Syarat formil perkawinan yaitu: pendaftaran ke kantor catatan sipil.

Konsepsi perkawinan adalah ikatan lahir dan batin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami dan isteri dengan tujuan membentuk keluarga yang bahagia, kekal, berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. ( Pasal 1 UU Perkawinan No.1 tahun 1974). Sehingga, perkawinan sah apabila secara agama juga dinyatakan sah.

Untuk WNI yang melakuka perkawinan di luar negeri, berlaku pasal 56 UU perkawinan No.1 tahun 1974 yang mengatur setiap perkawinan WNI di luar negeri, syarat formil yang berlaku adalah berdasarkan hukum di negara mana perkawinan itu dilangsungkan, dalam kasus diatas adalah Australia ( asas lex loci celebratonis). Setelah sah menurut hukum agama, barulah muncul keharusann untuk mencatatkan perkawinan ke kantor catatan sipil. Kedutaan besar bukanlah catatan sipil. Catatan sipil yang harus didatangi adalah kantor catatan sipil di Australia, bukan catatan sipil di Indonesia. Lalu didaftarkan ke buku pendaftaran di Perwakilan RI di Australia dan di laporkan ke kantor catatan sipil di Indonesia berdasarkan wilayah asalnya. Laporan ini wajib dilakukan dalam waktu 1 tahun setelah kembali ke Indonesia. Untuk wilayah Jakarta, diperlukan dokumen2 sbb:
- Bukti pengesahan perkawinan di luar indonesia.
- Kutipan akta kelahiran
- KK dan KTP
- kutipan akta perceraian atau akta kematian suami/isteri perkawinan yang lama.
- Paspor kedua pihak
- Pas foto berdampingan 4 lembar

2. Sebaiknya laporan diberikan langsung oleh para pihak, tetapi jika tidak memungkinkan dapat dilakukan melalui kuasa hukum dengan kuasa khusus.

3. Pernikahan yang tidak dicatatkan akan berakibat pada status hukum si anak yang dilahirkan dan ketika akan mengajukan gugatan perceraian. pencatatan diperlukan agar si anak mendapatkan status dwikewarganegaraan sehingga nantinya si anak tetap mempunyai hak yang sama dengan WNI lainnya khususnya dalam kepemilikan tanah. Jika status WNInya tidak di ketahui akan kesulitan nantinya menerima kewarisan dan memiliki tanah dan apapun yang dibatasi untuk orang asing. Jika perkawinan sah dan telah dilaporkan, maka pengadilan akan tanpa ragu menerima gugatan cerai. namun, jikatidak dicatatkan, pengadilan dapat menolak dengan alasan tidak berwenang menangani kasus cerai tersebut sehingga harus terpaksa kembali ke Australia hanya untuk bercerai.

4. Perjanjian perkawinan adalah perjanjian yang dilakukan suami- istri untuk mengatur akibat perkawinan mengenai harta kekayaan. perjanjian perkawinan diadakan sebagai penyimpangan KUHPerdata yang menganut percampuran harta kekayaan setelah perkawinan. Perjanjian perkawinan dilangsungkan sebelum perkawinan dilangsungkan ( Ps. 1395 Code Civil Perancis). ketentuan hukum yang berlaku diserahkan kepada para pihak ingin memakai hukum negara yang mana dengan pilihan terbatas : berdasarkan hukum tempat tinggal tetap, hukum asal kewarganegaraan, ata upun hukum kedudukan tanah berada.
Perjanjian perkawinan tetap berlaku walaupun suami-isteri pindah ke negara lain jika telah didaftarkan di Australia ( tempat perkawinan dilangsungkan).

Sebenarnya, hukum perjanjian sudah tidak diperlukan lagi karena UU perkawinan no.1 tahun 1974 menganut pemisahan harta kekayaan yang terdiri dari harta bersama dan harta bawaan. harta bersama adalah harta yang diperoleh di dalam perkawinan, sedangkan harta bawaan adalah harta yang diperoleh sebelum perkawinan. Jika terjadi perceraian, harta bersama dibagi 2, sedangkan harta bawaan tetap dikuasai oleh si empunya sebelum perkawinan terjadi.

25 January 2010

Kepemilikan Apartemen Oleh Orang Asing


Pemerintah melalui Menteri Negara Perumahan Rakyat akan membuat Peraturan Pemerintah mengenai kepemilikan asing terhadap properti Indonesia. Rencananya, di dalam peraturan tersebut akan memperpanjang jangka waktu kepemilikan properti dari yang tadinya 25 tahun menjadi sekaligus 80- 90 tahun. Apakah hal ini dapat dibenarkan?? Bagaimana menurut pandangan UUPA dan Landreform Indonesia??

Di dalam Undang- undang pokok agraria atau yang lebih akrab disebut dengan UUPA, orang asing hanya boleh memiliki tanah dengan status Hak Pakai atas tanah Negara yang berjangka waktu 25 tahun dan dapat diperpanjang maksimal 25 tahun ( Pasal 42 UUPA).

Kepemilikan rumah susun oleh orang asing, di dalam Pasal 2 Peraturan Pemerintah Nomor 41 tahun 1996 tentang pemilikan rumah tempat tinggal atau hunian oleh orang asing yang berkedudukan di Indonesia dikatakan bahwa “ Orang asing dapat memiliki tempat tinggal atau hunian atau rumah susun yang dibangun diatas tanah Negara dengan menggunakan status tanah hak pakai berdasarkan perjanjian dengan pemegang hak atas tanah.”

Yang perlu diperhatikan:

1. Orang asing hanya dapat memiliki tempat tinggal dengan status hak pakai diatas tanah Negara.

2. Melakukan perjanjian dengan pemegang hak atas tanah yang dibuat melalui akta Pejabat Pembuat Akta Tanah.

3. Jangka waktu hak pakai tersebut adalah 25 tahun dan dapat diperpanjang selama 25 tahun dengan membuat perjanjian baru.

4. Jika orang asing tersebut sudah tidak berkedudukan lagi di Indonesia, dalam jangka waktu satu tahun, wajib melepaskan haknya kepada orang lain yang memenuhi syarat. Jika tidak, rumah beserta tanahnya akan dikuasai oleh Negara dan dilelang, atau rumah tersebut menjadi milik pemegang hak atas tanah yang berangkutan.

Kedudukan orang asing di dalam UUPA diatur dengan sangat hati- hati perihal kepemilikan tanah atau bangunan di Indonesia. Dasar pembentukkan UUPA adalah melindungi Warga Negara Indonesia dalam memiliki hunian di tanah negaranya sendiri.

Pasal 33 ayat 3 mengamanatkan bahwa semua tanah yang ada di wilayah Indonesia merupakan karunia Tuhan Yang Maha Esa kepada rakyat Indonesia yang telah bersatu menjadi bangsa Indonesia. Tanah kepunyaan bangsa Indonesia tersebut penguasaannya ditugaskan kepada Negara Repulik Indonesiai UNTUK dipergunakan bagi sebesar- besarnya kemakmuran rakyat Indonesia.

Jika membiarkan orang asing membeli properti dengan begitu bebasnya, bukan tidak mungkin jika kasus yang terjadi di Australia akan terjadi di Indonesia, yaitu orang lokal tidak lagi mampu membeli properti di negaranya sendiri karena harganya yang melambung tinggi akibat dari investasi besar- besaran warga asing di bidang properti. Jika hal tersebut benar terjadi, maka kita telah gagal mewujudkan amanat Pasal 33 ayat 3 UUD 1945. Di Cina saja, harga properti melambung sangat tinggi diatas harga kewajaran, para bankerpun khawatir akan terjadi krisis ekonomi menyusul krisis properti Amerika.

Memang tidak mudah untuk orang asing mendapatkan hak atas tanah di Indonesia. Harus memenuhi syarat- syarat tertentu terlebih dahulu. Namun, dalam prakteknya ada beberapa alternative solusi bagi WNA uuntuk dapat memiliki property atau satuan atas rumah susun, yaitu:

1. Sewa- menyewa.

Dipraktekkan oleh developer, yakni WNA dapat menyewa apartemen dalam jangka waktu yang sangat panjang ( long term lease). Pada dasarnya konsep ini tidak mengalihkan kepemilikan.

2. Sewa- menyewa dengan kemungkinan konversi menjadi jual- beli. ( Convertible Lease)

Kepemilikan rumah susun masih pada pemegang hak atau pengembang, hanya saja disini diperjanjikan kemungkinan mengkonversi hubungan sewa- menyewa menjadi jual- beli. Dapat juga disebut sebagai pemindahan hak milik yang tidak langsung. Hal ini tidak melanggar Pasal 21 ayat 2 UUPA karena pemiliknya tetap.

3. Nominee/ Trustee

Yaitu pemilik satuan rumah susunnya adalah WNI. Biasanya terjadi peminjaman uang WNI kepada WNA sehingga WNI menjaminkan satuan rumah susunnya kepada WNA dan WNA bebas melakukan perbuatan hukum berdasarkan surat kuasa dari WNI. Hal ini diperbolehkan oleh UU karena transaksi antara kreditur asing dengan debitur Indonesia dengan jaminan Hak Tanggungan sering terjadi di dunia bisnis. Jadi, WNA menggunakan rumah susun itu seolah- olah dengan meminjam nama WNI. Namun, Hal ini dapat dikategorikan juga sebagai penyelundupan hukum.

Oleh karena itu, tidak perlu kita tergesa- gesa mereformasi undang- undang mengenai kepemilikan asing di bidang properti walaupun demi kelancaran investasi modal asing ataupun untuk penambahan pendapatan Negara. Jangan sampai peraturan pemerintah yang akan dibentuk ini malah bertentangan dengan amanat pasal 33 ayat 3 UUD 1945, UUPA, dan konsep Landreform kita.